Perjalanan dengan sepeda motor sering kali menjadi bagian dari rutinitas masyarakat sehari-hari. Dari berangkat bekerja, mengantar anak ke sekolah, hingga mengejar berbagai aktivitas lainnya. Di tengah mobilitas yang padat, tidak sedikit pengendara yang kemudian melakukan berbagai aktivitas lain ketika sepeda motor masih melaju.
Mulai dari melihat notifikasi di telepon seluler, menerima panggilan, membalas pesan, merokok, hingga makan dan minum. Sekilas terlihat sebagai hal sederhana, namun kebiasaan tersebut dapat membuat perhatian pengendara terpecah dan mengurangi kemampuan dalam mengantisipasi kondisi di jalan.
Padahal, berkendara sepeda motor membutuhkan koordinasi antara penglihatan, tangan, pikiran, serta kemampuan mengambil keputusan dalam waktu singkat. Kondisi lalu lintas yang dinamis membuat pengendara harus selalu siap menghadapi berbagai kemungkinan yang muncul secara tiba-tiba.
Safety Riding Development Section Head PT Daya Adicipta Motora, Ludhy Kusuma, menjelaskan bahwa fokus menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keselamatan selama berkendara.
“Ketika berkendara, kita membutuhkan konsentrasi penuh untuk mengendalikan sepeda motor sekaligus membaca kondisi di sekitar. Aktivitas lain yang dilakukan saat motor masih berjalan dapat mengalihkan perhatian, sehingga respons terhadap potensi bahaya bisa menjadi tidak optimal. Karena itu, biasakan untuk menjadikan berkendara sebagai fokus utama selama perjalanan dan selalu #Cari_Aman,” ujar Ludhy.

Gangguan konsentrasi saat berkendara pada dasarnya dapat terjadi dalam beberapa bentuk. Gangguan visual muncul ketika pandangan tidak lagi tertuju pada jalan, misalnya saat melihat telepon seluler atau mencari barang. Dalam kondisi tersebut, pengendara berpotensi melewatkan berbagai informasi penting di depan, seperti kendaraan yang mengerem, jalan berlubang, maupun pergerakan pengguna jalan lainnya.
Sementara itu, gangguan manual terjadi ketika tangan tidak sepenuhnya digunakan untuk mengendalikan sepeda motor. Memegang telepon, makanan, minuman, atau benda lainnya dapat membuat pengendara tidak berada dalam posisi optimal ketika harus melakukan pengereman maupun manuver secara tiba-tiba.
Tidak kalah penting adalah gangguan kognitif, yaitu ketika pikiran tidak sepenuhnya tertuju pada aktivitas berkendara. Pikiran yang terbebani pekerjaan, emosi, rasa lelah, atau percakapan yang terlalu menyita perhatian dapat membuat pengendara kurang peka terhadap situasi di sekelilingnya.
Untuk itu, menjaga fokus dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Sebelum berkendara, pastikan barang-barang yang dibutuhkan sudah tersimpan dengan aman dan telepon seluler tidak perlu diakses selama perjalanan. Jika membutuhkan navigasi, atur rute terlebih dahulu dan gunakan perangkat pendukung yang aman tanpa mengharuskan pengendara melihat atau memegang telepon ketika motor sedang berjalan.
Begitu pula ketika ada kebutuhan untuk melakukan aktivitas lain. Pengendara sebaiknya mencari tempat yang aman untuk berhenti dan menyelesaikan aktivitas tersebut sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
“Kalau ada telepon yang harus diangkat, pesan yang perlu dibalas, atau kebutuhan lain seperti minum dan mengambil barang, sebaiknya berhenti terlebih dahulu di tempat yang aman. Jangan memaksakan melakukan aktivitas tersebut sambil berkendara. Dengan berhenti sejenak, kita bisa kembali berkendara dengan kondisi yang lebih fokus,” tambah Ludhy.
Keselamatan berkendara pada akhirnya bukan hanya mengenai kemampuan mengendalikan sepeda motor, tetapi juga tentang bagaimana membangun kebiasaan yang tepat di setiap perjalanan. Memberikan perhatian penuh kepada jalan, menjaga kondisi tubuh, menggunakan perlengkapan berkendara, serta mematuhi aturan lalu lintas merupakan bagian dari upaya menciptakan perjalanan yang lebih aman.
