
OtomotifZone.com-Aceh Timur. Sempat menjadi polemik dan gonjang ganjing issue tidak sedap terhadap venue gelaran Grand Final MotorPrix Indonesia 2017 Aceh Timur akhirnya terselanggara dengan sukses Sabtu Minggu Kemaren (2-3 Desember) dimana event tersebut digelar disirkuit NP Komplek Perkantoran Pemda Aceh Timur.
Perjalanan kenapa akhirnya event tersebut digelar diwilayah IDI Rayeuh Aceh Timur, ternyata karena Pengprov IMI Aceh akhirnya menjadi satu-satunya Pengprov yang mengajukan diri sebagai penyelenggara kejuaraan akbar Road Race Tanah Air setelah PP IMI menawarkan keseluruh Pengprov yang ada sejak bulan Juli 2017, Regulator pusat memberi waktu 2 bulan sebelum akhirnya minggu ke-3 September, PP IMI memutuskan dan menunjuk IMI Aceh sebagai tuan rumahnya.

Siapapun akan memimpikan gelaran super akbar digelar disirkuit permanen, kita ketahui bersama, 2 sirkuit Sentul menjadi grey area pengprov IMI Jabar dan DKI tidak menyodorkan diri sebagai tuan rumah gelaran, sementara Jawa Barat yang mempunyai 4 sirkuit termasuk Sentulpun sama tanpa ada jawaban, demikian pula pengprov lain, secara otomotis Medya Saputra selaku Kabir R2 PP IMI mengeluarkan surat keputusan penunjukan.
Sontak merebak bahwa sirkuit tak permenen menjadi salah satu issue fantastis jika event digelar di Aceh Timur sangat membahayakan karena tidak memenuhi unsur safety, Penulispun sangat setuju tidak ada sirkuit non permanen jauh dari unsur keamanan, namun melihat histori yang ada, justru Aceh Timur menyelamatkan Grand Final MotorPrix 2017 lho…
“silahkan gosip yang beredar bahwa sirkuit di Aceh Timur tidak layak dan berbahaya, buktinya gelaran berjalan lancar dan sukses, meski tidak dihadiri seluruh jawara dari tiap regionnya, kami sudah memberikan yang terbaik, kita sudah menyaksikan bersama, insha Allah segala kekurangan ini akan kami perbaiki dengan menyediakan sirkuit permanen, Insha Allah”, terang H.Hasballah bin H.M Taib, bupati Racing Aceh Timur.

Jawaban yang sama dilontarkan Medya Saputra dari PP IMI, “Prosedur sudah kami tempuh, 2 bulan kami memberi kesempatan kepada seluruh Pengprov yang ada, siapa sanggup menjadi tuan rumah Grand Final MotorPrix 2017, nyatanya tidak ada satupun pengprov yang sanggup, dan hanya IMI Aceh yang menjawab dan menyodorkan surat kesediaan menjadi tuan rumah, siapa yang salah..?? kenapa pengprov yang mempunyai sirkuit permenan dan non permanen yang dianggap layak tidak menggelar event tersebut, jika Aceh Timur tidak menjawab, tidak akan ada Grand Final MotorPrix, Aceh Timur penyelamat event ini, suka tidak suka”, heran Medya Saputra.

Sulaiman, selaku ketua Korwil IMI Aceh Timur merangkap ketua pelenggara juga menuturkan, “kami sudah berusaha maksimal, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada PP IMI, IMI Aceh, Pemda Aceh Timur dan juga pembalap, tanpa peran dan kehadirannya event ini tidak akan sukses, mohon maaf jika kami dianggap belum maksimal”.
Tidak ada yang aman meski sirkuit permanen sekalipun, makanya rombongan kreator sirkuit dadakan mendatangkan ahlinya sekelas Eddy Horison dan team berjibaku untuk menyulap sirkuit non permanen tidak memenuhi syarat menjadi sedikit layak dan mengeliminir accident, dan terbukti aman, meski memang dibeberapa titik ada penyempitan track dan aspal baru yang mengelupas, namun dedengkot Racing Indonesia ini memberi penjelasan kepada team dan pembalap.
Tidak ada gading yang tak retak, event akbar sudah berjalan, pembalap sudah mengantongi hadiah 20 juta dari Bupati Racing dikelas Seeded dan 16 juta kelasa pemula, semua berharap tahun depan digelar disirkuit permanen, dengan catatan ada yang mampu menggelarnya dan Grand Final MotorPrix masih dianggap layak dan pantas digelar atau pembalap hanya puas menjadi juara nasional regional saja..???
Penulis : Edi Batrawan | photo :Â Edi Batrawan



