OtomotifZone.com, Aceh – Memang benar, bagi banyak orang, akhir pekan adalah waktu untuk bersantai setelah bekerja keras selama lima hari. Namun, bagi panitia pelaksana acara balapan atau yang biasa disebut Racing Committee, hari Sabtu dan Minggu justru menjadi puncak kesibukan. Dari Senin hingga Jumat, mereka mungkin fokus pada pekerjaan reguler. Tapi begitu akhir pekan tiba, aktifitas mereka beralih ke arena balapan. Maka tidak heran jika satu minggu terasa begitu singkat, karena di saat orang lain beristirahat, mereka justru sedang berpacu dengan waktu untuk memastikan setiap detail acara balapan berjalan dengan lancar.
Awal 2020 menjadi titik balik yang mengubah total kehidupan kita. Saat pemerintah mengumumkan lockdown nasional karena pandemi COVID-19, semua aktivitas luar rumah dihentikan secara drastis. Sekolah dan kantor ditutup. Keadaan ini memaksa kita untuk bekerja, belajar, dan beraktivitas hanya dari rumah.
Dampak lockdown tak hanya dirasakan oleh masyarakat umum, tetapi juga oleh tim Aceh Timing System, para timer balap motor di Aceh. Kehidupan mereka yang biasanya sibuk di sirkuit mendadak kosong. Wahyu Rinaldi—atau yang lebih dikenal sebagai Pak Dos—mulai mencari hal baru untuk mengisi waktu kosong tersebut dengan kegiatan yang bermanfaat. Ide untuk membuat timer balap lurus pun muncul.
“Benar-benar dari nol saya memulai semuanya. Tekadnya cuma satu, menghasilkan timer drag Made In Aceh,” kenang Pak Dos. Ia mulai memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar hal-hal baru. Ia mencari referensi, belajar bahasa pemrograman, tanya sana sini dan mempelajari regulasi drag yang telah dikeluarkan oleh IMI Pusat. Waktu luang yang tersedia selama pandemi mulai digunakan untuk mewujudkan ide yang mungkin nantinya dapat berguna bagi dunia balap.
Membuat timer ini ternyata membutuhkan perjuangan yang tak sebentar. “Hampir seperti mengambil gelar sarjana,” kenang Wahyu Rinaldi. Total, dibutuhkan waktu 3,5 tahun untuk menyelesaikan timer balap lurus tersebut. Prosesnya dilakukan secara bertahap, mulai dari membeli komponen secara mencicil sesuai ketersediaan finansial, merakit, hingga merancang perangkat lunak dan firmware kontrolernya.
Pria yang juga seorang dosen di Departemen Teknik Kimia di Universitas Syiah Kuala ini menjelaskan, waktu kosong yang melimpah di awal pandemi sangat membantunya fokus. Namun, setelah situasi kembali normal, waktu yang ia miliki kembali terbatas. Hal ini membuat proses pengerjaan timer tersebut menjadi lebih lama, tetapi tidak menghentikan tekadnya untuk menyelesaikan proyek tersebut.
Timer yang akhirnya diberi nama DRA87IMER (Drag Timer 87) ambil bagian pada tanggal 26-27 Juli 2025 dalam acara Drag Bike Putaran 4 di Sirkuit Pasir Panjang, Kalimantan Barat. Ini event kedua kami, sekaligus event pertama di luar Aceh. Respons dari peserta sangat positif. Pihak penyelenggara, Racing Committee (RC), IMI Kalimantan Barat, hingga para peserta merasa sangat puas dengan kinerja alat.
Setelah digunakan di Kalimantan Barat, timer tersebut tidak saya bawa pulang lagi ke Aceh. DRA87IMER akan merantau ke luar Aceh dan dikelola oleh tim Jumpa RPM. Saya akan menempuh studi doktor selama tiga tahun ke depan. Keputusan ini secara otomatis akan mengurangi aktivitas di dunia balap, ucapnya menutup pembicaraan kami.




