BerandaRacing Roda 2Road RaceFrans Tanujaya Angkat Suara Prihal Kegaduhan Regulasi Baru

Frans Tanujaya Angkat Suara Prihal Kegaduhan Regulasi Baru

OtomotifZone.com – Jakarta, Regulasi baru yang dikeluarkan melalui hasil Rakernas IMI 2025 terkait masuknya kelas MP 7 Minimoto Sport menuai beragam tanggapan di kalangan pecinta balap motor nasional. Menanggapi hal tersebut, Frans Tanujaya, selaku Deputi Olahraga Sepeda Motor IMI Pusat, memberikan klarifikasi sekaligus penjelasan mendalam mengenai latar belakang dan tujuan utama dibukanya kelas tersebut.

“Izin mengklarifikasi, kelas MP 7 Minimoto Sport yang dipermasalahkan ini merupakan program dan concern Ketua Umum IMI Pusat terhadap faktor safety dan pembinaan pembalap muda Indonesia,” ujar Frans.

Frans menjelaskan bahwa kelas Minimoto Sport sejatinya bukanlah hal baru di Indonesia. Program serupa pernah dijalankan pada periode sebelumnya dengan menggunakan motor rakitan AP10, yang mengombinasikan sasis lokal dan mesin asal China. Namun, program tersebut hanya bertahan satu tahun dan terhenti karena sejumlah kendala yang tidak dijabarkan secara detail.

Frans Tanujaya mantan crosse yang rindu akan prestasi crosser nasional
Frans Tanujaya ingin Crosser Indonesia bangkit kembali

“Untuk saat ini, perkembangannya jauh lebih baik. Sudah ada tiga brand yang memproduksi dan menjual motor Minimoto Sport, yaitu Lenka, Daytona, dan Ohvale. Bahkan Lenka memiliki harga yang lebih murah dibanding motor bebek 150 cc standar sebelum modifikasi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Frans menegaskan bahwa dasar pemikiran diaktifkannya kembali kelas MP 7 Minimoto Sport—yang pada tahun 2026 akan dijalankan terlebih dahulu di Region B—adalah untuk mengakomodir pembalap usia 8–12 tahun. Pada usia tersebut, rata-rata pembalap memiliki postur tubuh dan berat badan sekitar 20–30 kg, sehingga membutuhkan sepeda motor yang sesuai dengan fisik mereka.

“Motor Minimoto Sport memiliki bobot di bawah 70 kg, ini jauh lebih aman dan sesuai dengan postur pembalap muda. Faktor safety menjadi pertimbangan utama,” tegas Frans.

Ia juga menyoroti hasil evaluasi musim balap sebelumnya, di mana pembalap pemula usia 8–12 tahun terpaksa menggunakan motor bebek yang bobotnya mendekati 120 kg, bahkan motor sport 150 cc dengan bobot hampir 140 kg.

“Ini sangat riskan dan berbahaya bagi generasi pembalap muda kita ke depan,” tambahnya.

Menurut Frans, kelas MP 7 Minimoto Sport bersifat terbuka untuk berbagai brand, termasuk brand lokal. Konsep ini sejalan dengan pembinaan di Eropa, seperti Junior GP, yang saat ini juga menjadi jalur pembinaan pembalap Indonesia seperti Ramadhipa dan Veda.

“Mungkin ini yang belum sepenuhnya dipahami oleh sebagian pihak. Padahal visi dan misinya sama, yaitu memajukan pembalap muda Indonesia,” ujarnya.

Sebagai penutup, Frans menegaskan bahwa IMI sangat serius dan peduli terhadap keselamatan serta masa depan pembalap muda nasional.

“Intinya, IMI sangat peduli terhadap safety dan pembinaan pembalap muda Indonesia, serta mengarahkan mereka pada program dan riding style yang selaras dengan Program FIM Road to MotoGP. Semoga ini bisa menjadi informasi yang membangun agar balap motor Indonesia semakin maju,” pungkas Frans.

Must Read

Parolin Racing Advertisement Spot