Beranda Racing Roda 2 Grasstrack GTX Jabar : Grade C Bikin Lieur, Balap Liar Juga Edun

GTX Jabar : Grade C Bikin Lieur, Balap Liar Juga Edun

0
1903
persaingan seru adik kaka, Iwan Mj dan Tommy Mj
persaingan seru adik kaka, Iwan Mj dan Tommy Mj
persaingan seru adik kaka, Iwan Mj dan Tommy Mj

OtomotifZone.com-Bandung. Lieur bahasa sunda gaul.. mumet, pusing dan bikin gemes mungkin harfiah yang terkandung didalamnya. Kata-kata itu sekarang sering disebut pelaku Grasstrack Jawa Barat, baik pembalap terutama pembalap junior dan senior, Promotor, Komisi dan juga Juri lomba itu sendiri ketika harus berhadapan dengan grading penyelenggaraan Grasstrack yang ada di wilayah Pengprov IMI Jawa Barat.

Asal muasal lahirnya GRADE C sebetulanya baik untuk pembinaan pembalap-pembalap lokal yang ada ditiap wilayah dimana event GTX itu digelar. Disisi lain lahirnya peraturan Grade C juga untuk menangkal maraknya balap liar yang lebih dikenal dibahasa pelaku disebut  balap lokal.

Seiring perjalanan dan perkembangan waktu, dibeberapa wilayah kantong atlit dan promotor garuk tanah Jawa Barat Wilayah CIBATAGA (Ciamis, Banjar, Tasik dan Garut) adalah lumbung pembalap grasstrack Jabar disamping Majalengka, Sumedang, Indramay dan Sukabumi justru marak dan sering dibuka ajang balap lokal yang liar tanpa rekomendasi Pengprov IMI Jabar. kejadian acap muncul justru ada kegiatan resmi yang mendapat ijin rekomendasi dari pengprov.

Contoh kasus saat gelaran grasstrack walikota cup Sukabumi 2 minggu yang lalu dan diwilayah tasik, justru saat bersamaan muncul event lokalan (liar) muncul diwilayah Ciburuy (padalarang) Jampang Kulon Sukabumi, rancah Desa Ciamis, Sumedang dan Cibubur. Namun berkat kesigapan Komisi GTX Jabar lewat Edi Banda mendatangi langsung Polsek Setempat event lokalan Jampang akhirnya dibubarkan.

Asiikkk juga niiih…. kaya ditektif kelas teri dan coro, OZ punya gaya untuk mengorek lebih dalam kenapa balap liar justru semakin marak disaat event resmi digelar. Hasil penelusuran dengan kasak kusuk sana sini tanpa tusk sana sini ehh tindak kejahatan dong kalau nusuk.. udah udah kembali ke topik. Lahirnya balap liar salah satu indikasi dan alasan pelaku balap liar karena mahalnya biaya rekom yang harus mereka keluarkan, pinginya 1  juri saja yang bertugas dan sponsor pun susah didapat otomatis biaya membengkak membuat jalur itu ditempuh (bisa aja alasan bisa juga alibi dan pembenaran dan bisa jadi emang benar adanya).

Hans Senjaya dan dan Cecep "akew" Chandra juri event GTX
Hans Senjaya dan dan Cecep “akew” Chandra juri event GTX

Padahal segala sudah ditempuh oleh Pengprov IMI  Jabar dengan melahirkan Grade C. Justru lahirnya kelas ini juga menjadi bumerang bagi Pengprov itu sendiri, penyelenggara juga kadang mengakali dengan mengajukan ijin grade C namun kenyataan dilapangan malah dibuka kelas Open. Kejadian ini yang sering bikin pusing pembalap dan juga Juri yang bertugas. Kurang tegasnya pengprov atau memang nakalnya promotor menjadi pemicu ramainya opini untuk tahun depan ditiadakannya grade C dan balap liarpun tetap ada.

“Tasik, Ciamis dan Banjar dimana saya dilahirkan kadang lahirnya grade C justru diakali para promotor  dalam menggelar event, rekomnya grace C dilapangan justru digelar event dengan tingkat B, ini yang membuat juri yang bertugas hanya mencatat dalam laporan, dibaca atau engga laporan juri kita juga tidak tau, karena evaluasi dari berbagai event tidak pernah kita dengar, harusnya ada bedah masalah dari bidangnya mengenai laporan juri, sehingga ada pegangan yang jelas dari kami ketika ditugaskan dikemudian hari” jelas Hans “ohang” Sanjaya ketika diajak ngobrol saat bertugas di event Grasstrack Subang Kemaren.

Menyikapi Grade C memanjang ke balap liarpun OZ sempat berbicara dengan para komisi GTX Jabar, Edi Banda, Asep Huis, Agus Emon dan para senior garuk tanah juga pusing dengan menghadapi event tanpa rekom. ” apa pegangan kami ketika mendatangi event liar, sementara kita selalu melakukan sosialisasi bagaimana tata cara menyelenggarakan event yang baik serta resmi, sementara dari pengprov nya belum ada tindakan nyata, kami yang dilapangan harus bertarung dengan nyawa sementara pengprov belum ada tindakan real, padahal pengprov IMI Jabar sudah melakukan MOU dengan Polda Jabar” jelas Edi Banda diamini para komisi GTX.

H.R.M Djoko Suryono, Kabid Organisasi Pengrov IMI Jabar
H.R.M Djoko Suryono, Kabid Organisasi Pengrov IMI Jabar

Tanpa takut pulsa abis karena telpon sana sini, menclok juga akhirnya OZ menghubungi HRM Djoko Soerjono selaku Kabid Organisasi Pengprov IMI  Jabar,” kami masih terus memfinalisasi hasil MOU dengan Polda, materi dari MOU harus kita gali lebih dalam agar kita punya pegangan dan payung hukumg, tunggu saja kami pasti akan melakukan tindakan, Substansi dari MOU nya kita masih godog lebih dalam mas bro”, Jelasnya.

Mendengar Jawaban Kabid Organisasi kami masih belum puas, alhasil kami mendapat jawaban yang hampir sama.” setelah rapat bidang, saya sudah membaca isi MOU isinya sih gak jelas, jadi saya juga bingung mau bagaimana bertindak, sementara kegiatan marak liaran terus berlangsung, mau sampai kapan organisasi disepelekan oleh pelaku balap liar yang sebetulnya orang-orang yang sangat mengerti aturan” jelas Iwa K Kabiro GTX.

Padahal hukumnya sudah jelas lho kalau menggelar event tanpa rekom kena ancaman kurungan 2 tahun dan denda 2 milyard kalau mengacu pada UU olahraga no. 51 tahun 2014.

“Justru dengan belum ada tindakan nyata dari induk organisasi para pelaku balap liar malah kesannya menantang sampai kapan IMI Jabar akan melakukan tindakan, yang ada denger-denger malah akan membuat asosiasi grasstrack tandingan di Jabar seperti IOF lho, malah struktur kepengurusan juga sudah dibentuk, malah saya juga diminta menjadi bagian dari mereka, tapi saya bilang lihat saja nanti, masalah grade C itu sebenarnya bagus kalau penyelenggara pada komitmen, kalau terus yang digarap grade C kita para junior dan senior kapan balapnya” jelas Iwan MJ seniornya GTX Jabar.

Ada 2 tugas berat Pengprov  IMI Jabar menyikapi ruwetnya Grade C dan maraknya balap lokal nan liar. Mari saatnya duduk dikursi meja masing-masing dihadapan meja yang sama, semakin cepat bertindak semakin baik, semakin lama tidak bertindak organisasi semakin di injak…    jangan dong sakit…..

Mari… kita saling terbukaa….. semoga GTX menjadi semakin baik. terbukti GTX nasional Jabar hanya selamat dikelas Pemula, sementara junior dan Senior GTX Jabar jauh tertinggal dari Jawa Tengah… mari saatnya berbenah…..

Penulis : Edi Batrawan | Foto : Edi Imola