OtomotifZone.com – Jepara. Kebijaksanaan IMI Jateng yang mengharuskan promotor wajib menggelar tayangan road race setelah 3 kali bikin event dragbike akhirnya berbuah manis. Indikasinya bisa dilihat dari jumlah stater yang mulai meningkat dari seri seri road race sebelumnya. Jangan ngomongin kualitas dulu lah tetapi ambil sisi positifnya yaitu mulai bangkitnya lagi road race di Jawa Tengah.
Seperti yang dialami oleh Bambang Gaduro promotor balap dari Jawa Tengah. Kewajibannya bikin road race sebanyak 2 kali sudah lunas, karena ia bikin event dragbike 6 kali. Dan event balap motor dengan title Jepara Road Race Piala Bupati 2015 di sirkuit GOR Bumi Kartini Jepara (28-29/11) tidak ada hubungannya dengan kebijaksanaan dari IMI yang menyangkut dragbike.

“Katakanlah ini adalah tayangan bonus dari kami, saya lihat perkembangan road race cukup signifikan maka saya memberanikan diri untuk bikin lagi. Mulai ada pembenahan pembenahan dan tahun depan baru bisa memakai transponder, kan mahal juga kalau sewa transponder,” janji Bambang Gaduro.
Tercatat ada 290 stater ikut ambil bagian, ini cukup banyak dibanding event road race sebelumnya. Sayangnya tidak diimbangi dengan sirkuit yang bagus, malahan kondisi aspal dan trek cukup sempit dan banyak dikeluhkan oleh pembalap. Aspal licin karena pasir membuat pembalap berjatuhan terutama di tikungan.
Tambalan aspal baru di titik tertentu juga tak banyak membantu malahan mengelupas karena tergerus gesekan motor yang terjatuh. Yang patut disayangkan di trek lurus cukup banyak penonton yang masuk ke lintasan hanya untuk memberi intruksi atau semangat pada pembalapnya. Harusnya area disini harus bersih dari penonton ataupun pitcrew.

“Wah treknya sempit, nggak maksimal gaspolnya. Aspal juga berpasir jadi nggak bisa late brake. Saya beberapa kali terjatuh padahal sudah brake tapi ban kehilangan grip karena pasir, jatuh deh,” ujar M Erfin Firmansyah.
Nasib sama juga dialami oleh Martin Cp, owner tim Arya 117 Racing Family Jogjakarta juga mengkritik kondisi trek. Ia yang juga ikut terjun balap mengaku kesulitan mengover take lawan. Pasalnya trek tidak cukup lebar dan kalau dipaksakan overtake akibatnya bisa jatuh bareng.
“Model trek seperti ini siapa yang menempati grid baris depan dan baris kedua paling berpeluang podium. Saya main aman saja ketika sudah ada diposisi 5 besar. Makanya saat QTT mestinya sudah harus pake transponder biar lebih adil dan valid,” senyum Martin CP. Sabar, Bambang Gaduro selaku promotor udah janji kok tahun depan pake transponder. Mantab!.
Penulis : Unang | Foto : Unang

