Beranda Racing Roda 4 Drag Race Kejurnas Drag Race Padang : Perpacu Waktu di Landasan Pacu

Kejurnas Drag Race Padang : Perpacu Waktu di Landasan Pacu

0
1694

OtomotifZone.com – Padang. Putaran kedua Kejuaraan Nasional Drag Race digelar di Padang, Sumatera Barat sepanjang Minggu (24/4) di Pangkalan Udara Padang. Balap trek lurus sepanjang 402 meter ini bertitel “C! Ayia Rosadi WF FDR Solid” yang diusung duet Yonder WF Alvarent dan Nanda Achyar.

Sayang minus dragster nasional. Peserta hanya berasal dari Sumbar dan Riau. Kurangnya animo dragster tampil di putaran kedua, karena mahalnya mengusung ‘mobil perang’nya ke kota lain yang jaraknya jauh. Bayangkan jika towing dari Jawa Timur bisa merogok kocek Rp.20 juta dan dari Jakarta sekitar Rp.10 juta. Belum biaya lainnya.

Dragster lokal tentu saja tak mau ketinggalan. Momen ini dimanfaatkan untuk tampil habis-habisan di kelas paling bergengsi FFA alias Free For All. Terakhir bisa tampil saat Kejurnas Drag Race Seri 6 tahun 2014 di tempat yang sama, Minggu (9/11) lalu.

Saat itu, peserta lokal merajai kelas bebas ini. Irwan Afriadi, Rizki, Fauzi Radja, dan Wildan dari Padang serta M Ikhwan asal Pekanbaru mengisi posisi 1-5. Kelimanya mengandalkan Honda Nova, Civic dan Jazz.

Di kelas FFA, catatan waktu 07,560 detik diukir Riski G dari tim Ir Engineering Padang dengan mobil Mitsubishi Lancer Evo tak mampu disaingi lawannya. Podium pertama untuk Riski. Waktu terdekat 08,193 detik dicatat Billy dari Steve Garage Pekanbaru dengan mobil andalannya Subaru.

Trek yang dipakai di Lanud Tabing, kini berganti nama Pangkalan Udara Padang, adalah beton. Biasanya digunakan sebagai runway atau landasan pacu pesawat take off. “Hanya disini yang cocok dipakai untuk kejurnas,” sebut Yonder WF Alvarent. Apalagi sejak Bandara Internasional Minangkabau operasional 22 Juli 2005, Bandara Tabing berubah menjadi Pangkalan Udara Padang dan hanya dipakai untuk pesawat militer.

Permukaan trek beton jelas berpengaruh terhadap catatan waktu dibanding trek aspal. Di bawah terik matahari dengan suhu 30°C, hawa panas pantai yang berjarak 3 km dari lokasi masih terasa, permukaan trek semakin panas siang itu, membuat persaingan semakin menggelora.

“Memang beda, tapi bisa disiasati dari ban. Kalau main di kelas modif pakai ban slick, untuk mobil standar bisa pakai Toyo Broxes,” sebut Fauzi Radja dari tim Radja Honda Padang sambil mengakui lebih enak main di trek aspal.

Persaingan baru sedikit mendingin ketika hujan turun sekitar jam 15:30 membasahi trek saat final kelas FFA dan sedan modifikasi digelar. Catatan waktupun berpengaruh.

Kelas paling ramai Feroza
Kelas paling ramai Feroza

Namun dilihat dari animo dragster yang tampil sangat luar biasa. Tercatat sebanyak 357 starter. Kelas paling ramai Jeep Standar 1700cc yang didominasi Daihatsu Feroza 56 starter.

Kelas ini sempat diprotes peserta, sebab ikut gabung Rush dan Terios ke dalamnya. Keberatan peserta, kenapa sistem injeksi digabung dengan karburator? “Kita berpegang pada regulasi yang ada sekarang, yang dilihat spesifikasi teknis, bukan merek mobilnya,” jawab Dharma Sradha, Juri Perlombaan.

Protes peserta Feroza krn digabung dgn Rush.
Protes peserta Feroza krn digabung dgn Rush.

Hasilnya, Toyota Rush memang mendominasi podium pertama hingga ketiga dengan catatan waktu tercepat diukir 17,839 detik oleh Riski G. Sudahlah, lain kali bikin saja kelas One Make Race khusus Feroza.

“Kejurnas ini didukung dua Menteri, yakni Menteri Pemuda Olahraga dan Menteri Pembangunan Desa Tertinggal,” bangga Yonder WF Alvarent sambil menunjuk piala Menpora untuk juara umum yang diraih Bobby Legend dari tim Ir Engineering Padang.

“Selain menggelar event kejurnas, tujuan lain yakni mewadahi kegiatan drag, dan mengurangi trek-trekan liar di jalan umum,” tambah Nanda Achyar Rosadi. Agar meriah ditambahkan kompetisi lain seperti DJ Performance, Graffity dan Photography.

Yonder memang sudah tiga kali gelar event Drag Race. Salutnya peserta selalu ramai tampil. Salah satu rahasianya, Yonder mahir merangkul dan mengajak dragster untuk main di gelaran yang dipentasnya.

Penulis : Noverry Darwin | Foto : eNDe Sutan Pamuntjak

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses