OtomotifZone.com – Riau. Seharusnya rangkaian putaran Kejuaraan Nasional Grasstrack di Region I Sumatera terus bergulir dengan jeda waktu seminggu. Sesuai jadwal yang telah diagendakan sebelumnya, putaran pertama hingga keempat diatur hanya beda sepekan, agar grasstracker bisa rolling dari satu provinsi ke provinsi lainnya.
Namun kejadian klasik kembali terjadi. Pengprov IMI yang seharusnya menjadi Pembina klub di daerah sering terlambat memberitahu klub penyelenggara di daerah tentang agenda event. Akibatnya promotor lokal tak siap. “Baru dapat info awal Mei, diberitahukan bahwa putaran 4 untuk Riau diselenggarakan pada 28-29 Mei,” buka Aldoe Putra, Ketua Panitia Penyelenggara dari klub PPL. Nah lho!
Wajar bila klub tak siap dengan waktu yang mepet. Apalagi kejurnas GTX selalu minus peserta. Salah satu kendalanya, grasstracker tahu jadwal juga dalam waktu mepet. Pantesan selama ini gak pernah rame diikuti tracker.
Masih mending putaran ketiga yang baru saja usai di Bangko. Pembalap garuk tanah dari Lampung, Sumsel, Bengkulu, Sumbar dan Riau masih tampil. Jumlah starter pun bisa tembus di atas 200.
“Saya selaku ketua pelaksana event merasa terlalu mepet dan meminta waktu habis lebaran tanggal 23-24 Juli agar teman-teman dari luar provinsi bisa melakukan persiapan. Kami ingin lebih siap gelar event, peserta ramai dan sukses,” ungkap Aldoe pemilik Aldoe Racing89 MX Team yang menaungi #7 Abelleo dan #259 Diego PPL.
Surat pun sudah dilayangkan ke kantor Pengprov IMI Riau melalui Torang Rinaldi, Kabid Roda Dua. Saat ini sedang menunggu konfirmasi dari PP IMI pusat. “Yaaa betul, saya sudah tau masalah itu. Diundur sampai Juli,” jawab Ardi Yanmarsyah, Koordinator Wilayah Grasstrack di Region I.
Nantinya Kejurnas GTX bakal dilaksanakan di sirkuit Pertamina Lirik Area di Indragiri Hulu yang disupport Kawasaki Greentech Rengat dan LA Bold. “Kalau bicara potensi pembalap di Riau jangan ragu, sebab intensitas kejuaraan GTX dan MX di tanah Lancang Kuning cukup rutin karena hampir setiap minggu selalu ada event,” beber Aldoe yang telah beberapa kali gelar event.
Satu pelajaran yang bisa kita ambil adalah, koordinasi antara Pengprov IMI setempat dengan klub penyelenggara seharusnya terjalin dengan baik. Jangan sampai image IMI sebagai tukang stempel event masih melekat. Seharusnya keduanya menjadi mitra di daerah demi memajukan olahraga otomotif. Itu yang harus dilakukan.
Penulis: Noverry Darwin | Foto: Ongah Racing

