Otomotifzone.com-Solo. King Of Battle Matic Race & Road Race sirkuit Manahan Solo 26 Juli 2015 kemarin tertuju pada kelas Bebek Tune Up 150cc dan 200cc. Dedengkot kelas Seeded era tahun 2000-2004 muncul kembali bersaing seperti waktu mereka balap ditahun yang terkenal dengan Underbone 2 tak-nya. Bener lho kemarin ibarat reuni seperti saat balap event-event Caltex Yamaha Cup Race atau Inter Biru Road Racing Championship tahun 2001. Pembaca udah lahir belum sih? Wah, kasihan kalau belum sempat lihat pertarungan yang jaman saat itu kebanyakan mengandalkan teknik dari pada mesin.

Apa lagi di kelas 200cc Tune Up podium di isi Agus Bledug, Dwi Cahyono, Dimas Kroechil, Bima Octavianus. Orang-orang lama semua itu. Stop balap karena regulasi umur dan kalah motor, soal teknik jangan tanya.. Mereka masih mampu boss!! “Atmosfer balap belum berubah, masih seperti dulu!,” ucap Dimas Kroechil, mantan juara nasional 4tak tahun 2000. Iya 4tak, jaman dulu 4tak cuma 1 kelas saja kejurnasnya. Dia yang juara pertama kali saat kelas tersebut di kejurnaskan.

Yang sayang-sayangan dengan bos lama juga ada. Yaitu Dwi Cahyono bersama Timuran Motor. Duet pembalap Surabaya dengan team asal Solo ini juga pernah merasakan masa-masa berjaya saat memakai Fiz-er hijau di Underbone Tune-Up 110cc Seeded. Jawir sapaanya di minta kembali sama koh Nyo-Nyo buat balap Manahan minggu kemarin.

Memang yang juara bukan salah satu dari mereka tapi Sony Suartha, salah satu pembalap lokal Solo. Sony mengakui balap dengan mereka masih berat. “Balap dengan mereka sangat dramatis terutama di kelas 200cc. Lawan yang tak bisa dianggap remeh di si pembalap hebat walau mereka sudah tua. Dari penyisihan saya fokus mencari celah untuk menang. Benar, mereka masih ampuh! Butuh konsentrasi tinggi untuk mengatur ritme balap selama 12 lap,” heran Sony yang akhirnya bisa juara di kelas 200cc. Dia masih muda lho. Lawannya 30an tahun ke atas.

Untungnya ada kejurda yang mana ditempat ini mereka masih bisa balap. Kejurnas kebanyakan regulasi bos. Umur mereka menjadi halangan, soal teknik pembalap muda pun masih bisa di ladeni. Yaitulah yang diinginkan para komunitas pecinta balap Solo. Inginnya jangan cuma kejurnas saja yang mampir. Kejurda pun juga sering-sering dibuat guna memunculkan bibit-bibit penerus karena gacoan saat ini masih tertumpu dengan Agus Setyawan. “Kekurangannya di bidang promosi mas, padahal karisidenan Surakarta itu kalau ada balap pemulanya banyak. Jadi masih kurang menurut saya. Tapi tanggapan saya sudah bagus ada kejurda lagi di Jateng,” kata Diana, satu-satunya pembalap wanita yang di miliki Jateng.
Penulis : Hafid | Foto : Istimewa.

