OtomotifZone.com – Bandung. Buat aplikasi engine performance, termasuk balap, ECU stand alone biasa jadi pilihan. Maklum ECU alias Engine Control Unit standar mesin, khususnya motor tidak bisa diprogram. Komputer yang menjadiotakpegaturanbahanbakardan pengapian difokuskan pada pemakaian bahan bakar irit alias ekonomis.
Biasanya ini ditandai dengan pemakain sensor oksigen model narrow band.Sensor ini menjadi jagal sapi eh jagal perbandingan udara dan bahan bakar atau istilah kerennya Air to Fuel Ratio (AFR) supaya mengarah ke kondisi stoikiometri. Buat bensin, perbandingan AFR-nya 14,7:1. Berat 14,7 udara dibanding 1 bensin.Kondisi ini dianggap secara molekul merupakan perbandingan tepat untuk mendapatkan pembakaran sempurna.Cocok untuk kondisi harian.

Sayangnya, hal ini tidak cocok dengan mesin balap atau mesin untuk performa tinggi.AFRnya di kisaran 12-13 atau campuran bahan bakar lebih kaya alias basah.Sedikit kelebihan bensin ini untuk memastikan setiap udara yang masuk ke mesin benar-benar bisa berjodoh dengan BBM untuk mendapatkan performa terbaik.
Di sini ECU stand alone yang rata-rata bisa diprogam mampu menyesuaikan kebutuhan mesin. Termasuk mengatur derajat pengapian mesin untuk mendapatkan hasil terbaik. Termasuk meningkatkan batasan putaran mesin (RPM limiter) yang pasti menjadi kendala bagi mereka yang doyan ngebut.

Tetapi sayangnya ECU aftermarket ini belum tentu unggul dibanding ECU pabrikan.Tidak semua orang mampu memrogramnya. Karena butuh pengetahuan dan pengalaman seting mumpuni. Apalagi, ECU pabrikan dibekali algoritma super komplet dan tepat sesuai desain mesin yang akan dicangkokkan. Keihin, Mikuni sampai Magneti Marelli tahu benar kompleksitas sebuah mesin agar bekerja sempurna.Mereka memiliki algoritma superrumit agar mesin mampu bekerja maksimal, termasuk dalam kodisi ekstrem sekalipun. Ini tantangan buat produsen ECU lokal seperti REXTOR, BRT atau IQUTECHE.
ECU standar pabrik tidak selamanya jelek.Ada beberapa yang terbilang canggih karena memiliki algoritma Self Learning untuk membaca kondisi udara sekitar. Termasuk saat kita melakukan penggantian knalpot freeflow, ECU da mesin langsung bisa menyesuaikan guna mendapatkan performa terbaiknya.Kelemahannya cuma satu. Limiter RPM aja terkadang kelewat rendah bagi sebagian orang.
Biar awet kali mesinnya.
Penulis : Nometo Izaku | Foto : Istimewa

