OtomotifZone.com – Jakarta, Pebalap Lewis Hamilton akhirnya memberikan penjelasan detail mengenai alasannya jarang menggunakan simulator milik Scuderia Ferrari, meski dirinya mengakui fasilitas tersebut merupakan salah satu yang terbaik yang pernah ia gunakan.
Hamilton memang dikenal bukan penggemar simulator Formula 1 sejak awal kariernya. Menurutnya, pengalaman di simulator sering kali tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi nyata di lintasan.
Meski begitu, juara dunia tujuh kali tersebut tetap memuji simulator Ferrari yang dianggap memiliki teknologi luar biasa dan didukung tim teknis terbaik.
“Simulator Ferrari luar biasa. Tempatnya sangat hebat untuk bekerja. Itu simulator terbaik yang pernah saya lihat dan tim di belakangnya juga sangat luar biasa,” ujar Hamilton.
Pebalap asal Inggris itu mengungkapkan dirinya mulai mengenal simulator sejak era McLaren Formula 1 Team pada akhir 1990-an. Saat itu teknologi simulator masih sangat sederhana dan belum memiliki pergerakan kokpit seperti sekarang.
Hamilton mengaku cukup sering menggunakan simulator saat membela McLaren, namun ia merasa sesi yang terlalu panjang justru membuat proses belajar menjadi kurang efektif.
“Kadang Anda melakukan terlalu banyak lap dan akhirnya tidak lagi belajar apa pun,” katanya.
Ketika bergabung dengan Mercedes-AMG PETRONAS Formula One Team pada 2013, Hamilton juga mengaku simulator tim saat itu belum benar-benar akurat. Karena itulah dirinya sangat jarang memanfaatkan fasilitas tersebut selama periode dominasinya bersama Mercedes.
Hamilton bahkan menyebut hanya sekali dalam kariernya setup simulator benar-benar cocok dengan mobil di lintasan, yakni saat meraih pole position di GP Singapura 2012.
Memasuki era ground effect dan kepindahannya ke Ferrari pada 2025, Hamilton sempat mencoba lebih rutin menggunakan simulator. Namun hasilnya tetap belum memuaskan.
Menurut Hamilton, setup yang terasa sempurna di simulator justru sering kali berlawanan ketika diterapkan langsung di sirkuit.
“Sering kali setelah bekerja keras di simulator, ketika tiba di trek semuanya terasa berbeda. Anda akhirnya harus mengubah lagi pendekatan menikung, setup mobil, hingga keseimbangan pengereman,” jelasnya.
Karena itu, Hamilton memilih fokus mendalami data teknis bersama para engineer Ferrari dibanding terlalu bergantung pada simulator.
Ia kini lebih banyak mempelajari keseimbangan mobil saat menikung, mechanical balance, distribusi pengereman, hingga optimalisasi sistem rem yang selama ini menjadi salah satu kelemahannya.
Hamilton menegaskan dirinya bukan sepenuhnya meninggalkan simulator. Ia masih melihat alat tersebut berguna, terutama untuk pengembangan power deployment dan korelasi data.
Namun untuk beberapa balapan, Hamilton memilih tidak menggunakan simulator sama sekali. Menariknya, strategi tersebut justru memberikan hasil positif.
“China menjadi contoh terbaik. Saya tidak menggunakan simulator sebelum balapan dan itu justru menjadi akhir pekan terbaik saya,” tutup Hamilton.

