OtomotifZone.com – Indramayu. – Meski letak dan posisinya berada cukup jauh karena di ujung paling barat serta berbatasan langsung dengan kota Subang, namun hal itu tidak menyurutkan animo dan potensi dari warga Kabupaten Indramayu pada kegiatan otomotif khususnya balapan cakar tanah.
Seperti yang terlihat di ajang kejuaraan Oryza RRT 89 Open Grasstrack 2019
yang berlangsung di sirkuit Batara Indra JPP, Indramayu, Jawa Barat, Sabtu-Minggu (7-8/9), tercata ada sebanyak 228 starter dan disaksikan oleh banyak penonton dari seputaran warga sekitar yang menjadikan balapan ini jadi hiburan rakyat. Tentunya hal itu berdasar karena sejak lama grasstrack ini dikenal dengan sebutan balapan rakyat.
Dan gelaran balap cakar tanah kali ini memang baru pertama kali diadakan secara resmi, meski sebelumnya juga pernah dilakukan event serupa namun masih sebatas latihan bersama ketika lintasan di tepi jalan raya alternatif dari kawasan Cikamurang – Subang menuju wilayah Haurgeulis, Indramayu, ini rampung dijadikan sirkuit semi permanen.
BACA JUGA : Hasil Lomba Oryza RRT 89 Open Grasstrack 2019 Indramayu

“Kita memang sudah ada jalinan kerjasama dengan Perum Perhutani Indramayu untuk bikin sarana balap grasstrack di seputaran sini. Dan akhirnya disepakati lahan seluas 4 Ha ini dibuat sirkuit sekaligus untuk bantu pengembangan sarana JPP40 yang jadi andalan di daerah sini agar kelak bisa dijadikan promosi wisata dan olahraga dengan adanya sirkuit ini,” ujar Aep Syaepul Syaepudin, ketua pelaksana balapan dari Batara Indra yang merupakan klub lokal Indramayu.
Potensi dan animo warga di daerah Indramayu yang terkenal dengan penghasil buah mangga ini memang cukup antusias dengan adanya event grasstrack. Dari daftar yang tercatat di entry list sebagian besarnya merupakan grasstracker lokal yang punya ambisi dalam ajang balapan resmi kali ini dan juga untuk uji kemampuan balapnya dalam bersaing dengan pembalap lain dari luar kota Indramayu.

“Makanya kami coba untuk bikin event disini agar bisa menjadi wadah dan sarana penampung aspirasi pembalap dari Indramayu dan juga daerah lainnya di Jabar. Mereka punya potensi dan bakat yang harus terus dikembangkan lagi untuk bisa berkiprah di ajang balapan grasstrack,” kata Omen RC selaku penyelenggara dari RRT 89 dan diakui pula oleh Deni Nata Irawan alias Bah Tomer sesepuh balap grasstrack asal Sumedang.
Saat ini kondisi di beberapa daerah sedang dilanda kekeringan akibat musim kemarau panjang, dan hal yang sama sedikit berimbas pula pada kondisi yang ada di lintasan dengan penuh debu pekat. Apalagi tanah di area kawasan hutan ini agak berkontur keras yang membuat para pembalap harus jeli dalam menaklukkan trek sepanjang 1.200 meter. Tentunya panitia penyelenggara sudah mengantisipasi terhadap kondisi sirkuit yang penuh debu ini dengan menyiram lintasan menggunakan truk air.
“Itu memang sudah jadi prosedur dalam tahapan penyelenggaraan event grasstrack jika kondisi lintasan terdapat debu yang cukup pekat. Agar pembalap bisa dengan aman melintasi sirkuitnya dan tidak terlalu terhalang oleh tebalnya debu,” tukas Sule Aditya dan Edi Kartamin sebagai Juri Lomba dari IMI Jabar.
Penulis : Obeth | Foto : Obeth




