OtomotifZone.com-Wonosobo. Gelaran bernama Cebong Imelindo Kejurnas Motocross Seri 6 – 2015 di sirkuit Kledung bagaikan balap MX1 atau motocross di luar negeri. Lokasi sirkuit tepat diperbatasan Wonosobo-Temanggung ini banyak yang mengatakan mirip di Eropa. Wizzz… Dingin dan di apit dua gunung kembar, Sindoro dan Sumbing. Ya gak kembar-kembar amat sih.

Kontur tanah ladang tembakau yang di sulap sirkuit garapan Triyana Wibowo atau terkenal dengan sapaan Pak Wiwid ini dikerjakan dengan sigap. “Dikerjakan dalam waktu 15 hari dengan dua alat berat. Ya beginilah mas kalau balap di area pegunungan. Model tanah disini seperti ini, walau di lakukan penyiraman berulang-ulang tanah tetep gembur,” ucap penggagas acara yang juga seorang pembalap di kelas Executive B dan di event ini dia meminjam Rizky HK feat Edi Aryanto sebagai pembalapnya di kelas Junior Plus..

Tahukan Motocross luar negeri model tracknya seperti apa? Tanah gembur bagaikan pasir yang bisa menjerembabkan motor kalau gak sanggup mengendalikan liarnya pacuan. Plus motor yang kurang cepat bisa selip roda belakang menggerus gemburnya tanah sirkuit Kledung.“Saya sempat bilang sama Irwan Ardiansyah, bagus gak sirkuitnya? Dia menjawab ini sirkuit mirip MX1, model-model disana ya seperti ini.” kata mister Arif MBG yang disini sebagai juri. “Ada tapinya, bagus untuk motor-motor 85cc keatas. Untuk 50cc dan 65cc agak berat,” tambah bapak ramah yang konon kalau marah tambah ganteng. Hehehe… Beda dengan sirkuit di Bali, walaupun disana pasir tapi tipenya padat, ibaratnya pasir basah.

Disinilah kekuatan mesin dan fisik di uji. Alasannya jebakan batman ada setelah keluar tikungan U-Turn yang sempit seperti R1 atau R9 yang 5 meter kedepan langsung disuguh table top. Berattttt….! Butuh tenaga ekstra untuk motor dan fisik prima bagi pembalap. Motor terlalu dipaksa bisa jebol seperti punya Lewis Stewart. Permainan melahap sirkuit bagai banteng muda ini di moto2 harus finish duluan setelah akan mengoverlap urutan 9. Ya tepat setelah keluar R9 dan ditengah-tengah table top.

“Saya suka treknya, tidak selalu di dominasi lintasan yang keras selama ini terjadi di motocross Indonesia,” ucap Lewis. Kenapa dia lagi yang kita minta pendapat? Gimana ndak? Diakan pembalap yang aktif main keluar negeri. Track di daerah asalnya sana emang kaya gini. Tapi lebih didominasi straight. Ibaratnya lagi motor melaju terus jarang pakai aksi lock brake atau bahasa kerennya stop and go.

“Sirkuit menyenangkan cuma kurang tambahan air. Debunya luar biasa, itu yang membuat motor mengalami masalah di moto2. Saat terbang motor saya jebol,” pasrah Lewis yang di moto1 pembalap urutan 2 sampai di overlap. Udah jangan heran, di seri 1 Cibinong aja jatuh bangun dari posisi 16 mampu overlap Agi Agasi di posisi 2.

Begitu pula dengan pembalap lainnya seperti Ivan Harry yang berkali-kali tersungkur pontang-panting di buang liarnya motor. Pembalap Kawasaki Vmx Indonesia bernomer start 33 asal Solo ini mengaku lemas. “Bener mas, terutama tangan saya sampai gak kuat. Lemes banget!,” tutur pembalap jangkung ini. 20 menit dihajar bagaimana tidak lemes bro..

Bagaimana dengan para Junior dan Novice? Beratkah? “Wah, sama mas. Tanganku linu banget. Baru kali ini tanganku gak kuat bawa motor. Jatuh berkali-kali tadi mas,” bilang Lotar Mardiyanto yang sempat memukai saat seri Solo. Sirkuit yang diapit dua gunung kembar yaitu Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing ini tak kalah serunya saat udara mulai dingin. Tak tanggung-tanggung pembalap macam Joshua Pattipi, Leon Pattipi, Hilman Maksum, Azim Zulfikar, memakai jaket saat balap. Sirkuit di lereng gunung memang menarik..
Penulis : Hafid

