OtomotifZone.com – Jakarta. Insiden yang menimpa pembalap M. Fadli saat melakukan selebrasi kemenangan di balap Asia Road Racing Championship 2015 Seri 2 di Sentul International Circuit lalu memang penuh kontroversi. Siapa yang salah? Puasa-puasa gini enggak bagus kalau saling tuding dan saling menyalahkan. Mending dilihat hikmahnya kan?
Desain sirkuit dari waktu ke waktu tidak banyak berubah. Di depan pit sepanjang garis start dan finish selalu ada tribun utama. Maklum, penonton dengan leluasa melihat aktivitas tim balap saat balap berlangsung. Termasuk menonton serunya finish pertama kali, itu menjadi magnet utama. Sekilas tidak ada masalah.
Saat insiden lalu, animo penonton memang luar biasa. Pabrikan membawa supporter buat mendukung pembalap-pembalapnya. Pabrikan Honda, Yamaha, bahkan Suzuki, berjubel memenuhi tribun. Penonton dari kubu Honda bahkan merangsek ke depan, mepet pagar untuk menyatakan suka cita ketika M. Fadli memenangkan pertarungan. Tentu maksud hati pembalap asal Depok itu membalas sambutan pendukungnya dengan selebrasi. Namun sayangnya area trek lurus sangat berbahaya untuk selebrasi, karena kemungkinan pembalap di belakangnya masih fight.
Agak repot juga buat Fadli, karena tidak tempat lain di Sentul yang ada penonton untuk melakukan selebrasi. Setelah finish, pembalap hanya melakukan 1 lap lagi kemudian masuk ke pit. Selesai. Ini yang harus dipikirkan. Apalagi, kabarnya sirkuit Sentul hendak merebut kembali salah satu seri MotoGP.
Apalagi Herman Tilke sudah sempat diudang ke Sentul. Perancang Sentul dan sirkuit internasional ini dikenal piawai. Sirkuit modern seperti Sepang, Malaysia membagi tribun-tribun penonton di luar tribun utama. Khususnya untuk selebrasi. Biasanya terletak di pertengahan panjang sirkuit. Di sini di jamin aman, karena pembalap sudah melewati finish dan beberapa tikungan serta melambatkan kecepatan.
Jangan sampai insiden ini terulang ketika Sentul benar-benar sukses mengusung MotoGP!
Penulis : Nometo Izaku | Foto : Hafid

