OtomotifZone.com-Padang. Mobil ambulance memang diperuntukan untuk membantu mengevakuasi korban, baik orang sakit ataupun kecelakaan, hal tersebut juga dilakukan sopir ambulance, niat hati memang membantu dan menolong, namun niat baiknya tidak tepat dilakukan, justru malah menambah parah kondisi yang tidak celaka menjadi celaka, hal tersebut terjadi dievent “Dandim 0311 Pessel Road Race Championship 2022 di GOR Ilyas Yakub, Painan Sumatera Barat, Minggu, 31 Juli 2022.
Berawal dari terjadinya crash yang sudah lazim dan lumrah diajang road race saat race 23 kelas matic Std 115 cc lokal pemula berlangsung, saat race berlangsung 4 lap dari total 6 lap, terjadi crash di R terakhir, disitulah petaka dimulai, karena tergerak hatinya sebagai pejuang kemanusiaan, dan kebetulan jarak ambulance hanya sekitar 10 meter dari lokasi crash, tanpa mendapat perintah dari COC, panitia tau Juri yang bertugas, sang sopir langsung tancap gas mendekati tempat kejadian crash saat race berlangsung.
Ditambah mendapat provokasi penonton yang tidak tahu prosedur penanganan kecelakaan saat balap, sontak sang sopir menjalankan ambulance tanpa komando, sementara para pembalap sedang fight memperebutkan posisi terbaiknya, bukan tangga juara yang diraih, 2 pembalap terdepan justru kaget dan terjatuh dan persis dibibir bamper ambulance yang sudah berhenti manis dikeluar tikungan terakhir.
Panitia sudah berusaha menghalau ambulance agar jangan masuk tanpa perintah, hal tersebut sudah dilakukan Tridiya Andra Juliandri sebagai pemimpin perlombaan, sontak melihat kepala mobil ambulance sudah nongol ditikungan terakhir, Andra langsung memberi intruksi kepada wakil COC untuk menahan laju ambulance, karena jarak startgate dengan tikungan terakhir lebih dari 60 meter, niat menghalau terlambat sudah, pembalap menumpuk jatuh dan banyak yang menghindari kecelakaan beruntun saat race.

Banyak Netizen berkomentar kenapa tidak bendera merah, hanya bendera kuning, bukan bendera merah, dan pembalap kok tidak tahu warna bendera, daripada semua terhakimi, penulis mencoba menelusuri kejadian tersebut sesuai informasi yang didapat.
“Kenapa bendera kuning dikibarkan pas di R terakhir karena itu adanya bendera yang ada dipos flag marshall pada saat itu, tetapi d garis start sudah dikibarkan bendera merah, dan Saya sebagai COC juga berlari ke R terakhir untuk mengibarkan bendera merah, karena saya sudah memberi intruksi wakil COC untuk stop ambulance tapi tidak terkejar waktunya”, papar Andra sang COC.
terus kenapa dipos terakhir hanya kibarkan bendera kuning, bukan merah, “untuk masalah bendera kuning di R terakhir karena tiap pos sekarang untuk event club jarang dilengkapi bendera lengkap karena tidak semua flag marshall profesional takut salah mengibarkan bendera”, tambah Andra.

Netizen juga menanyakan kenapa bisa terjadi begitu saja ambulance masuk seenaknya, melihat kejadian tersebut, sang ketua Juri “kami langsung usut kenapa ambulance seenaknya masuk lintasan tanpa mendapat intruksi COC, saya langsung tanya sopir ambulance, ternyata sopir ambulance inisiatif masuk karena disoraki atau disuruh penonton yang berada disekitar ambulan untuk masuk untuk menolong pembalap yg crash, Sementara pembalap tidak mengalami cidera yang serius, apalagi ini race sedang berlangsung, sangat membahayakan,”, tegas Indra “Oyon” Yunaidi, ketua Juri didampingi Donal Elvian.
Memang tidak ada briefing panitia dengan semua yang terlibat, “Sebelum race semua prosedur sudah dijalani briefing bareng juri, panitia pihak keamanan dan tim medis serta flag marshall dan peserta, karena itu adalah rangkaian yang harus kami jalankan”, papar sang COC.
Mungkin inisiatif yang dilakukan supir ambulance karena sang driver adalah warga lokal sekitar, apalagi kelas yang dilombakan adalah kelas lokal, siapa tahu yang crash adalah saudara atau kerabatnya, mungkin itu pikiran singkatnya, tapi bagaimanapun kejadiannya, komunikasi itu penting, kedepannya tiap pos mungkin jika kelengkapan bendera tidak komplit, minimal disiapkan alat komunikasi agar intruksi bisa disampaian secara cepat.
video : Max Chank




