BerandaRacing Roda 2CorneringCornering Jogja Jateng Mati Suri Dipalak "Preman"

Cornering Jogja Jateng Mati Suri Dipalak “Preman”

OtomotifZone.com-Jogjakarta. Geliat hobby dansa aspal alias cornering bisa dibilang salah satu embrionya di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Awalnya, cornering dilakukan di wilayah pegunungan dengan jalanan berkelok dan menurun, seperti di wilayah hutan cemara di perbatasan Bantul-Wonosari. Sedangkan di Jateng pehobi dansa aspal ini banyak dilakukan klub dengan menuruni jalanan dari Grojogan Sewu, Karanganyar.
Hobi ini lantas berkembang menjadi lebih solid dengan model latihan bersama di lapangan seputaran GOR Maguwoharjo, GOR Pacar-Bantul, dan GOR Manahan Solo. Setiap latihan sore di akhir pekan senantiasa membeludak. Beberapa pehobi mencoba mengkoordinir sehingga menjadi semacam ‘balapan resmi’ sejak 2014. Berhadiah dan pulang dapat piala. Inilah justru awal petaka.
Beberapa Event Organizer mengeluh kalau sekarang mendapat banyak tekanan dari oknum IMI yang ‘memalak’ uang event. Padahal event ini belum secara resmi masuk kalender IMI sebagai olahraga yang diperlombakan. Beberapa promotor pun akhirnya memilih undur teratur. Aksi layaknya mafia alias preman ini sudah rahasia umum. Mirip kentut, ada bau, tapi nggak ada yang mengakui.

Promotor Jabar memberi Fasilitas
Promotor Jabar memberi Fasilitas

Padahal setiap gelaran cornering yang sempat diadakan, peserta membeludak di atas 300 peserta. Maklum, pendaftaran murah meriah, sekitar Rp 150ribu saja, terus dapat piala sebagai hiburan. Bagi pemula dan awam, ini ajang senang-senang. Bagi mantan pembalap, ini ajang melemaskan otot dan mengenang masa silam. Bahkan, para pembalap tua ini bak ABG tua. Maklum,dulu muda gak punya ongkos balap,sekarang udah jadi juragan. Tak heran modifikasi motornya menghabiskan puluhan juta rupiah.
Malesnya lagi, kini balap hobi ini menjadi sapi perahan. Event terakhir di Solo lalu, uang pendaftarannya tembus Rp 450 ribu!! Melampaui balap resmi MotoPrix! Sungguh memprihatinkan. Apa perlu Menpora membekukan balap tanah air seperti halnya sepak bola? Ya jelas, biar IMI lihat punggung, koreksi diri.

Semoga ini hanya ulah oknum bukan kebijakan regulator. Maju terus Cornering Indonesia, komunitas tidak pernah mati.

Penulis : Nometo Izaku |Photo : Edmol

3 KOMENTAR

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Must Read

Parolin Racing Advertisement Spot