OtomotifZone.com-Italia. Aksi cornering over limit The Doctor saat menaklukkan tikungan kekanan Mugello benar-benar membuat takjub. Sedikit saja kesalahan, Vale bisa saja kelontang bin ndlosor menyusul Marc Marquez mencium gravel. Meski terlihat overpower ban belakang dan nyaris saja terjatuh, tetapi keseimbangan Rossi dan YZR M1 mampu menetralisir petaka. Kok bisa ya?
Soal sasis, Yamaha memang sejak dulu diakui kesempurnaan setingnya.Tetapi soal mesin, lain soal.Urusan power, Ducati dan Honda biangnya.Tetapi urusan di sirkuit lain lagi. Kombinasi pembalap, manajemen mesin dan sasis kunci kemenangan.
Soal dapur pacu, M1 dibekali Cross Plane Crankshaft yang merupakan generasi baru manajemen power. Merupakan pengembangan dari teknologi Big Bang yang sedari awal mumpuni mengail tenaga dahsyat.Teknologi mesin silinder sejajar yang sebenarnya kurang balance dibanding mesin konvigurasi V mampu dieliminasi. Itu dari sumber tenaga.
Namun senjata paling ampuh yang dimiliki M1 sekaligus pembeda dibanding pabrikan lain adalah putaran mesinnya yang berputar berlawanan dengan arah motor. Betul. Jika dilihat dari sisi kiri motor, mesin berputar kekanan, sedangkan pabrikan lain kekiri. Apa untung ruginya?
Untungnya, soal keseimbangan motor.Saat motor melaju kencang, begitu menghadapi tikungan, pertama kali yang dilakukan adalah melakukan perlambatan. Bisa mengerem, atau mengurangi persneling atau menutup gas. Motor memiliki gaya inersia atau kelembaman sehingga perlambatan butuh kerja keras.
Kelembaman merupakan sifat benda untuk mempertahankan kedudukannya.Semakin kuat kelembaman butuh kemampuan pengereman mumpuni.Pada M1, inersia dan gaya gyroscopic roda depan dan belakang yang berputar kedepan berusaha dinetralisir oleh putaran rangkaian kruk as dan flywheel yang mengerah kebelakang. Kondisi ini membantu menyeimbangkan gaya gerak kedepan dan belakang. Efeknya, pembalap penunggang M1 enggak perlu mengerem habis-habisan hanya untuk mendapatkan jarak pengereman yang sama dengan rivalnya. Alias, Yamaha bisa memperpendek jarak pengereman alias late braking.
Nah, soal gyroscopic.Apaan tuh?Itu adalah gaya akibat putaran benda. Nyaris seperti inersia, tetapi lebih keputaran.Contoh, pegang sebuah roda sepeda dengan dua tangan pada sumbunya.Ketika roda diputar, coba miringkan roda, lebih beratkan? Itu gaya gyroscopic. Nah, bayangkan saja putaran roda motor MotoGP yang berputar lebihdari 300 km/jam.Ya beratlah buat motor menikung, berganti jalur, atau melakukan gerak zig-zag di tikungan rapat.
Disinilah lagi-lagi gyroscopic mesin yang berputar kebelakang menjadi penetral. M1 pun enteng dibanting kiri-kanan bahkan ketika pembalap melakukan aksi atau salah power seperti aksi 46 lalu. Rossi tak perlu jatuh bangun.
Meski begitu, bukan berarti system Backward Rotation engine tak ada kelemahannya. M1 membutuhkan as pembalik untuk memutar rangkaian gigi persneling. Jikat idak, apa iya Vale dan Lorenzo balapan mundur..hehe.. As pembalik ini membuat tenaga mesin terserap beberapa persen dibanding mesin dengan model rotasi kedepan. Makanya Yamaha meski selalu di depan, tetapi bukan selalu terkencang. Mudah-mudahan bermanfaat.
Penulis : Nometo Izaku | Photo : MotoGP

