
OtomotifZone.com-Bandung. Ada hal yang cukup ganjil dari kebiasaan sebelumnya diarena balap garuk tanah. Biasa kita melihat tunggangan yang begitu gagah nan tinggi dengan cangkokan kaki-kaki dan rangka kokoh, namun saat Kejuaraan Grasstrack Kadispora Garut Cup 2015 yang telah usai digelar Minggu 1 Februari 2015 lalu menarik perhatian penulis.
Interpretasi awal yang terbersit adalah karena isengnya pembalap lokal yang maksa pigin balap diajang garuk tanah karena jarangnya event balap motor yang mampir dikota Dodol, namun ternyata eh ternyata, usut punya usut bak Kabareskrim Polri yang lagi getol gelar kasus Wakil ketua KPK akhirnya terjawab sudah. ternyata memang ada kelas khusus dievent tersebut dengan membuka kelas bebek standard pabrikan 110 cc.

Memang benar itu adalah motor standard pabrikan, semua rangka, peredam kejut juga bawaan pabrik hingga body yang mengelilingi rangka terpasang semua, yang membedakan hanyalah Ban Tahu yang menyesuakan dengan lintasan dan Knalpot khusus untuk balap banyak loncatan karena takut kena benturan atau kandas.

“sengaja kelas ini dibuat, agar tumbuh peminat baru main dikelas ini, biaya yang sangat murah, hanya ganti knalpot dan Ban Pacul bisa sudah ikut bermain lumpur dan debu sambil happy, dan kedepannya kali aja pabrikan mau melirik gelaran grasstrack, karena selama ini pabrikan motor hanya melirik balap aspal, makanya dengan tidak melepas spakbor bawaan pabrik, batok lampu dan bodi lainnya biar ketauan kalau motor aslinya bisa keliatan dari bentuk bodi, dan sponsor pun bisa leluasa memasang logo-logonya saat support team atau event sekalipun”papar Nuke Ahadiyat selaku ketua Komisi GTX Pengprov IMI Jabar saat memimpin lomba event tersebut diamini Zamaludin selaku pengawas lomba.
Terobosan mantap tuh…kali aja pabrikan mau berperang dikancah tanah bukan hanya diaspal…….usulan ya bos.. kelas ini kalau bisa khusus pemula dan pemula lokal, biar banyak bertumbuhan pembalap baru dicabor garuk tanah ini…..atau kalau mau dibuka kelas Junior dan seniorpun jangan pernah sekali-kali dibuka kelas open, lambat laun pasti mati kembali karena kalahnya persaingan oleh pembalap yang lebih pengalaman.
Penulis : Edi Batrawan | Photo : Edi Batrawan

