OtomotifZone.com-Bandung Barat. Wilayah Jawa Barat memang luas, jarak ujung barat Jabar dan Timur kadang bisa memakan waktu setengah hari untuk menjangkaunya, dan itu yang membuat grasstrack dibagi beberapa region dengan tujuan untuk membuat kompetisi dan event merata.
Rupanya pembagian region klub event diadopsi oleh Pengprov IMI Jabar dalam menggelar Kejurda Grasstrack tahun 2017, dengan harapan pembagian wilayah akan melahirkan bibit-bibit baru dibalap garuk tanah, dengan pembagian 2 region, region Timur dan Barat diharapkan akan membuahkan hasil maksimal, nyatanya…????
Jika gelaran Kejurda tidak digelar bersamaan dalam 2 region mungkin hasilnya akan berbeda, namun kenyataan dilapangan, event tersebut digelar dalam waktu yang bersamaan selama 3 putaran, alhasil kelas senior dan Junior acap kali tidak memenuhi kuota peserta untuk kelas tersebut.
Padahal syarat untuk meraih tiket menuju grand final kejurda harus mengikuti seluruh seri tanpa alasan, namun kenyatannya, dikelas Senior hanya Chikal Faizal dan Sandi Irawan yang terus rajin mengikuti seluruh seri meski secara aturan, kelas Senior tidak memenuhi syarat kuota, race senior digelar karena ada tambahan pembalap Junior, dan kelasnyapun berubah menjadi Open, sedangkan kelas Kejurda hanya ada kelas Senior, Junior dan Pemula, selebihnya hanya supporting race termasuk kelas Open. Naah lhoo….
Padahal blue print dream kegiatan Grand final kejurda digelar dengan diikuti 20 finalis tiap kelas dan kategori pembalap, 10 dari region Timur dan 10 dari Region Barat, sedangkan 3 seri digelar saja tidak pernah mencapai kuota dikelas Senior dan beberapa seri dikelas Junior tidak berbeda nasib tidak ada pembalap.
Mari kita berilustrasi, Seri 1 wilayah Barat, hanya dihuni Pembalap senior hanya 5 orang kelas 110 cc Junior tidak ada pembalap, sementara diwilayah Timur, kelas Senior tidak dibuka karena hanya ada 2 pembalap saja. Kemudian diseri 2 wilayah Timur dan Barat , kedua Kelas Senior dan Junior tidak ada kuota pembalap, begitupun seri 3, Kelas kedua kelas tersebut tidak mencapai kuota, pembalap senior hanya muncul 2 orang diwilayah barat, sementara diwilayah Timur tidak ada batang hidungnya.
Apa yang ada dalam pikiran kita, masih disebut sukseskah event sekelas Kejurda..?? tidak begitu diminati pembalap, apakah event pembagian 2 region menjadi sumber masalah..??

“Kejurda Grasstrack IMI Jabar 2017 sangat merugikan semua pihak, Regulator tidak pernah mendengarkan kami dilapangan, pembalap dan promotor dibikin babak belur dan merugi, seharusnya saat melihat seri 1, harus segera dievaluasi, jangan dipaksakan, hasilnya kita bisa melihat, kami dari komisi bingung, kelas Senior dan Junior tidak ada yang dapat tiket menuju grand final kalau mengikuti aturan, karena tidak ada quota kelas”, papar Epi Kaseffi, Ketua komisi Grasstrack Jawa Barat.

Promotorpun sama berteriaknya, “kalau begini terus, siapapun tidak akan ada yang akan ambil jatah kejurda, mending bikin club event, subsidi yang dijanjikan juga tidak ada realisasinya sama sekali, kami klub merasa dirugikan” papar Sambas, promotor gelaran seri 3 wilayah Barat.
Mengenai hadiah juara region juga masih simpang siur, ketika OZ konfirmasi langsung dengan Ketua IMI Jabar, tiap region sudah disiapkan dana 6 juta dibagi 3 kelas, namun saat dikonfirmasi dengan Kabid R2, sedikit kebingungan, “kami belum bisa membagikan hadiah tersebut karena kami belum menyiapkan plakat, dan uangnya belum ada ditangan”. Hal tersebut membuat Chikal Faizal sebagai juara region Barat kelas Senior hanya bengong saat mempertanyakan hadiah tersebut kepada ketua komisi, dan ketua Komisi GTX tidak berani berspekukasi, ” kami tidak akan berani memberikan pernyataan resmi selama uang belum ada ditangan, takut salah info kan repot”. tambah Efi.

Seyogyanya sebelum kita bikin gebrakan, harus tahu kultur pembalap Jawa Barat, mereka hanya jago kandang, dan pembalap Betawi, “Betah Tinggal Diwilayahnya”.
Ayo….evaluasi, jangan sampai pembalap dan club kapok lho…
Penulis : Edi Batrawan | Photo : Edi Batrawan




