OtomotifZone.com – Jakarta. Dunia balap motor Indonesia, khususnya Sumatera, dikejutkan oleh kabar mengejutkan. Tim legendaris Suhandi Padang 88 Racing Team resmi menyatakan off balap pada musim 2026. Pengumuman ini disampaikan langsung melalui akun media sosial resmi tim pada Minggu (22/12).
Suhandi Padang 88 bukanlah nama biasa. Tim ini dikenal sebagai salah satu tim tertua dan paling disegani di Indonesia, khususnya di kancah balap Sumatera. Di baliknya ada sosok Suhandi Anggriawan, figur ikonik yang dikenal dengan banyak julukan legendaris seperti Amdi Berani, Padang Gile, Pebalap Tua-Tua Keladi, Pebalap Satu Mata, hingga Pebalap Tiga Zaman. Semua julukan itu mencerminkan satu karakter kuat: pantang kendor dan selalu ingin cepat, tanpa kompromi.
Selama puluhan tahun, Suhandi Padang 88 dikenal dengan motonya yang melegenda: siap tanding 1×24 jam. Namun keputusan untuk berhenti balap di 2026 justru datang secara mendadak, membuat banyak pihak tercengang.
Dalam pernyataan resminya, akun Suhandi Padang 88 menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membersamai tim sepanjang musim 2025.

“Terimakasih kepada semua pihak sponsor yang sudah terlibat di tahun 2025 ini dan kepada pembalap andalan saya, chief mechanic dan crew Suhandi Padang 88 Racing Team. Terimakasih telah berkontribusi serta menorehkan banyak prestasi gemilang selama balapan, serta sahabat Suhandi yang saya sayangi dan cintai,” tulis akun resmi tersebut.
Pernyataan itu kemudian ditutup dengan kalimat yang menjadi sorotan utama publik balap nasional.
“Dengan ini saya menginfokan team balap motor Suhandi Padang 88 Racing Team OFF mengikuti balap di tahun 2026. Terimakasih.”
Keputusan ini tentu menimbulkan tanda tanya besar. Sosok Suhandi yang selama ini dikenal tak pernah surut semangatnya di dunia balap, tiba-tiba mengeluarkan pernyataan OFF tanpa penjelasan detail mengenai alasan di balik keputusan tersebut.
Bagi banyak insan balap, absennya Suhandi Padang 88 di lintasan akan meninggalkan kekosongan besar. Balap Indonesia, khususnya Sumatera, tanpa Suhandi Padang 88 ibarat sayur tanpa garam—kehilangan rasa, warna, dan jiwa.
Apakah ini benar-benar akhir, atau hanya jeda sebelum kembali dengan gebrakan baru? Waktu yang akan menjawab. Yang pasti, nama Suhandi Padang 88 telah tertulis tebal dalam sejarah balap motor Indonesia.

