OtomotifZone.com– Kaimana. Kejurnas Grasstrack Region VI, Kaimana, Merauke dan Sirkuit Sai gautak menjadi benang merah satu cerita yang harus kita bedah jujur. Prediksi redaksi soal sepinya starter di sirkuit Coa Kaimana (25-27/9) akhirnya terbukti dari data time system.
Putaran I Keerom mencatat 272 starter dengan 86 peserta. Putaran II Kaimana hanya mencatat 105 starter dengan 32 peserta. Redaksi memprediksi sejak awal, anjloknya bukan karena panitia tidak siap, tapi karena sistem logistik Papua yang memukul mundur peserta. Prediksi itu kini terkonfirmasi.
Prediksi Yang Terbukti: Kejurnas-Nya Yang Hilang
Redaksi membedah data terdalam. Kelas inti Kejurnas GTX1-GTX7 anjlok paling telak. Di Keerom, GTX1-GTX6 masih hidup dengan 10-17 starter per kelas, total 86 starter berebut poin nasional plus 8 srikandi di GTX7 Wanita.
Di Kaimana, kelas Kejurnas tercatat 10 pembalap dengan total 26 starter. Artinya 30 pembalap Kejurnas dari Keerom hilang di perjalanan, drop 75%. Kelas GTX7 Wanita bahkan 0 starter.
Kelas pendukung juga tidak mampu menutup celah kurangnya starter. Lokal Keerom menyumbang 39 starter, di Kaimana Lokal Kaimana hanya 29 starter. Total drop 167 starter.

Konfirmasi Resmi: Traansportasi Jadi Penyebab Utama
Analisa redaksi soal transportasi dan minimnya pembalap lokal Kaimana langsung diamini Sekretaris IMI Papua Barat, Robby Wambrauw.
“Ya, benar. Dua faktor itu memang masuk. Pertama, transportasi ini yang paling menghambat. Kedua, pembalap lokal Kaimana juga tidak banyak, sehingga tidak bisa menutupi kuota starter,” tegas Robby.
Robby membeberkan fakta lapangan yang lebih keras. Tim dari Timika yang biasanya tempuh satu malam, kali ini butuh dua hari dan baru tiba siang. Manokwari lebih parah.
“Yang paling setengah mati itu dari Manokwari, karena tidak ada kapal langsung ke Kaimana. Makanya pembalap dari Manokwari sedikit yang datang. Ada sih beberapa yang datang, tapi itu pun pakai pesawat, dan motornya disiapkan oleh klub lokal di Kaimana. Kapal yang melayani rute ke sini cuma satu, muatannya juga terbatas.”
Kondisi ini menjelaskan mahalnya jalur udara. Pembalap luar Papua Barat harus dua kali penerbangan. Dari Merauke ke Manokwari, dari Jayapura ke Manokwari atau Sorong, baru sambung ke Kaimana. Kargo motornya mahal, jadwal kapalnya tidak setiap hari dan harus terjadwal.
Bukan Lintasan, Tapi Sistem Dan Waktu
Redaksi sejak awal menilai Sirkuit Coa Kaimana sudah 97% siap. Robby mengkonfirmasi hal itu.
“Untuk soal lintasan sendiri sudah cukup bagus, jadi bukan masalah lintasan.”
Ia menyebut Kapolres Cup Agustus lalu yang juga hanya 80-an starter membuktikan ini masalah sistem, bukan event.
Faktor kedua yang redaksi soroti adalah waktu yang mepet. Robby mengamini:
“Yang perlu dievaluasi oleh IMI Papua Barat adalah waktu pelaksanaan yang sangat mepet, hanya 25 hari sejak keluarnya surat (KRO). Ini akhirnya berurutan dengan masalah transportasi.”
Solusi Dan Harapan: Merauke Menyempurnakan
IMI Papua Barat sebenarnya sudah mendorong solusi. Robby menyebut ada disposisi Wakil Gubernur Papua Barat kepada Kepala Dinas Perhubungan untuk mengupayakan kapal tambahan atau kapal khusus bagi tim balap.
“Hanya saja realisasinya kemarin belum optimal,” akunya.
Inilah evaluasi paling berharga. Kaimana tidak gagal. Kaimana memberi pelajaran mahal bahwa menggelar Kejurnas di Papua butuh jeda minimal 45 hari, butuh pooling logistik di Manokwari, dan butuh pencetakan pembalap lokal jauh hari.
Redaksi berharap event Kaimana tetap berjalan baik dan sukses. Redaksi ingin publik Kaimana tetap mendapat sajian hiburan terbaik, dan cita-cita mencetak pembalap lokal Kaimana terwujud lewat Kejurnas ini.
Dan harapan terbesar ada di depan. Putaran III di Merauke, Sirkuit Sai gautak – eks Sirkuit PON 2001 Papua, kami yakini akan menyempurnakan Putaran I dan II. Merauke punya akses lebih mudah dan basis pembalap lebih besar. Kaimana hari ini belajar, Merauke nanti yang akan menjawab dan memulihkan geliat Kejurnas Grasstrack Region VI.
