
OtomotifZone.com-Bandung. Santernya kelas matik menjadi kambing hitam biang terpuruknya prestasi road race Jawa Barat dikancah nasional sudah semakin mengemuka, baik saat obrolan santai di pinggir lintasan maupun saat santai dipertemuan.
Memang sudah bukan rahasia umum lagi, Jawa barat yang punya seabreg event balap motor hampir tiap minggunya selalu ada masih kalah dengan pengprov lain di region 2 seperti Jawa tengah yang sepi event begitupun DIY yang kalah jauh dengan Jatim, tapi prestasi pembalap dan mekanik mereka dikancah Motorprix region pembalap di tiga pengprov selalu mendominasi hingga kelas pembibitan MP 5 dan MP 6.
Selepas Tamy Pratama 2 tahun lalu yang naik dikancah IP, tidak lah tampak pembalap Jabar yang berkibar, malah diajang Motorprix region 2 Bukit Peusar Tasikmalaya pembalap Jabar hanya bertengger diposisi 5 di MP 1 lewat Adly M Taufi, Felix FD diposisi 2 MP 5 dan Willy Ahadasi di MP 6 lainnya dihuni pembalap Jawa tengah, Jatimg dan DIY, sementara pembalap Jabar selaku tuan rumah hanya menjadi penonton setia.

Terpuruknya hasil tersebut matik lah menjadi sasaran tembak para pelaku otomotif Jawa Barat, sampai ada wacana matik di Jawa Barat harus dimatikan, dan itu tidak oleh satu pelaku otomotif sendiri tapi datang dari mulut para pencetus matik itu sendiri,, suatu hal yang aneh kalau didengar yang mengerti sejarah perkembangan balap matik di Jawa Barat. Jangan sampai lupa lho….event road race di Jawa barat kelas Matik adalah kelas penyelamat promotor untuk meraih kesuksesan, baik untung secara materi maupun gelaran, kelas matik justu menjadi penyumbang terbesar hingga 70 % jumlah starter disetiap gelaran.
Bukti matik sebagai penyelamat gelaran adalah di ajang Kejurda balap motor IMI Jabar 2015 seri 1 yang digelar di Kuningan minggu kemaren, dari total 354 starter dari 17 kelas yang dibuka, kelas motor ibu-ibu ini dihuni 160 starter sementara kelas wajib dihuni 98 starter itupun karena Pengprov IMI Jabar mewajibkan pembalap yang mengikuti kelas supporting harus mengikuti salah satu kelas wajib, naah kebayang kan kalau tidak diberlakukan aturan seperti itu diyakini gelaran akan sepi dan otomatis penyelenggara tepok jidat tekor beibeh…
Langkah yang dilakukan Pengprov sudah tepat dan tidak langsung memvonis mati kelas matik, perlu sosialisasi di club event juga agar pembibitan kelas bebek yang mengacu pada kelas kejurnas akan terus timbul bibit baru kedepannya, Matik menjadi pilihan pembalap Jabar karena banyaknya kelas yang dibuka dan tentunya murahnya membangun motor matik. terbukti salah satu calon pembalap potensial dikelas MP 5 dan MP 6 asal Karawang Rio Andrian sudah kepincut ikut balap matik lho….itu semua karena faktor lain selain kejar prestasi…semua karena uang.
Sejarahnya matik dulunya karena semakin boomingnya motor untuk keliling komplek dan pasar serta mahal dan sepinya balap bebek lho…sehingga menjamur seperti sekarang ini menjadi bumerang bagi Jabar, karena matik di Pengprov lain tidak segila yang ada tanah Sunda.
Banyak faktor yang mempengaruhi merosotnya prestasi Jabar dikancah Nasional, diantaranya harus ada penegasan aturan dari Pengprov tentang standarisasi jumlah Lap, terutama saat lap penyisihan, banyak penyelenggara yang dengan alasan mepetnya waktu dan banyaknya peserta hanya memberlakukan jumlah lap antara 4 sampai 5 lap ditiap kelasnya, bisa dibayangkan pembalap yang mendapat cabutan nomer undian berada paling buncit tidak punya kesempatan untuk mengejarnya, dan juga efeknya kehandalan mekanik Jabar tidak terdeteksi dengan baik, karena hasil korekannya tidak bisa dijadikan tolok ukur ketika turun dievent yang lebih besar lagi..Gaya dan pola hidup yang jauh berbeda dengan pembalap Jawa, ketidak disiplinan latihan fisik juga menjadi salah satu faktor pendukung jeblognya pembalap Jabar. Nahh ini juga yang paling penting, Bidang Binpres yang ada dikepengurusan Pengprov juga harus dimaksimalkan dengan seluruh jajarannya. Mulailah jemput bola tidak hanya menerima dan membaca laporan.
Sudah siapkah promotor Jawa Barat siap merugi..???? dan dijamin akan sepi event road race…….berfikir cerdas lebih keren daripada mengkambing hitamkan.
Penulis : Edi Batrawan | photo : Edmol

