OtomotifZone.com-Padang, Sumatera Barat. Pertarungan dua pembalap papan atas region 1 Sumatera diajang kejurnas MotorPrix region 1 sudah terlihat saat hasil QTT dan juga final race MP 1 bebek 4 tak hingga 150 cc seri 1 Lanud Tabing Padang, Sabtu hingga Minggu kemaren (26-27 Maret 2016).
Dua seteru diseri pembuka ini menjadi tontonan sangat menarik, dimana race final MP 1 memang menjadi pembuka race final kelas Kejurnas, membuat semua team dan pembalap menjadi tegang dan penuh was-was, apalagi setingan sirkuit sepanjang 1100 meter ini memang sangat menguntungkan garpu tala, namun team honda tidak menyerah begitu saja.

Sirkuit yang disetting kombinasi track panjang hanya ditikungan terakhir dan pertama, selebihnya hanya menggunakan gigi 1 dan 2 membuat banyak team honda kedodoran mengakali licin dan sempitnya sudut tikungan, membuat Sayap harus kedodoran setelah tikungan mati dan memulai lagi belum ada nafas sudah tertahan lagi.
Namun tidak berlaku bagi Tedy Permana, pembalap Jawa Barat dengan KIS Sumbar ini berlaga diteam Honda Menara Agung Budi Baik Bethar cukup percaya diri dalam menghadapai race final, hasil QTT yang seharusnya bisa lebih ini, namun harus pasrah masalah engine dijumpainya saat qualifying membuat Agung Febri Ramadhan dari team Yamaha Denas Sumbar melejit diposisi 1 sementara juara region 1 tahun 2011 harus puas diposisi 2.

Ketegangan jelas semakin terlihat saat bendera start dikibarkan, semua mata tertuju pada tikungan pertama, dan benar terjadi, beberapa pembalap harus tersungkur cium beton landasan pesawat nan keras, ada yang bisa melanjutkan race, ada beberapa pembalap harus mendapat pertolongan medis, namun persaingan dilintasan malah semakin menggila.
Lepas tikungan pertama, Agung Febri langsung melesat terdepan diikuti Dimas Popo dari Suhandi Padang 88 baru kemudian Tedy Permana. ketiga pembalap hingga sepertiga putaran dari total 25 lap masih ketat dan posisi 2 dan 3 saling overtake hingga akhirnya Sonic semplakan Tedy mampu merangsek diposisi 2 dan sudah semakin pendek jarak dengan pemimpin terdepan, Defri Nasri sang owner team Denas mondar-mandir dengan payungnya terus berputar mengikuti arah pembalapnya melaju.

Ketahanan mesin Tedy Permana rupanya harus pasrah dibebepara lap akhir, membuat dirinya hanya mampu bertahan untuk tetap diposisi 2 dan menjaga jarak aman dengan pembalap dibelakangnnya.
“saya mengalami trouble engine di lap-lap akhir, itu yang membuat saya harus menjaga mesin agar tetap hidup dan berkompetisi, takutnya kalau saya paksa untuk push tempel Febri malah bikin jebol mesin malah lebih celaka, ini hasil yang maksimal untuk seri awal, apalagi track ini tidak cocok banget untuk Honda, tapai saya tetap berjuang keras untuk memberikan yang terbaik untuk team”, papar Tedy Permana.

Hitungan kalkulator sih memang bisa dianalisa, tapi kerja berat daleman mesin tidak bisa kita duga dan hitung, itu yang membuat bermain pintar itu jauh lebih penting daripada memaksakan diri meraih yang terbaik.
Masih banyak seri untuk menjadi yang terbaik.
Penulis | Edi Batrawan | Photo : Edi Batrawan

