OtomotifZone.com – Magetan. Untuk kedua kalinya BG Dragbike tahun 2015 mampir dikota Magetan. Minggu kemarin (6/9) kembali jalan Mayjen Sungkono menjadi ajang prestasi 344 starter di 19 kelas yang dilombakan. Sirkuit yang memang sedikit menanjak itu lantas dengan tuner para dragster menjadi ajang riset motor masing – masing.

Jika menang ada trik tersendiri agar mesin motor tidak rontok sebelum garis finis. Bagaimana pendapat pihak penyelenggara, benarkah tidak ada alternatif sirkuit lain untuk menggelar dragbike. “Jelas sirkuit di jalan Mayjen sungkono ini idealnya dipakai roadrace, dan saya pribadi sebenarnya kurang sependapat jika dipakai dragbike. Alasan lain memang masih belum menemukan yang pas saja di Magetan dan sekitarnya,” terang Heru Subagyo selaku pimpinan lomba.
Dari catatan para petugas Polantas Resor Magetan, Jalan Mayjen Sungkono bukan satu-satunya yang sering dipakai balap liar di jam dan hari tertentu. “Bukan satu-satunya dipakai balap liar dikwasan ini, karena kondisinya tanjakan dan tikungan, masih banyak lagi jalan lebih menantang untuk dipakai kebut-kebutan anak muda di malam hari. Namun dengan diberi wadah dengan digelarnya Dragbike semacam ini, mereka para anak muda bisa menyalurkan hobi balapnya,” ujar AKP Puryanto.
EKO KODOK Gagal podium utama
Sang maskot balap trek Lurus Eko ‘Kodok’ Sulistyo sengaja didatangkan para tim dragbike Jatim. Namun kali ini Eko gagal peroleh podium teratas karena beberapa faktor. Yakni kendala di start awal didepan christmas tree dan mengakali trek tanjakan agar sampai digaris finis. Kendala apa saja yang dikeluhkan.

“Saya sangat lambat pelintir gas start, terbukti reaction time sangat jelek, dan ini membuat saya kalah cepat start dibandingkan pembalap Jatim lainnya. Ini buntut terlalu hati-hati kena lampu merah isyarat jumpstart, dan ini memang kurang terbiasa saja. Soal trek agak menanjak motor yanga saya pakai tadi (ninja.red) gir belakang dinaikkan satu mata dari 37 ke 38, dan lepas tuas kopling biasanya 2 meter sesudah garis start ini saya harus menahan hingga 3 meter agar nafas motor ditanjakan tercapai,” bilang Eko Sulistyo. Benarkah tips demikian dapat membantu mesin dengan teriakan rpm tinggi hingga garis finis.
Beda dengan Ricko Bocel dan Alvan Cebong yang berbagi podium utama masing tiga kelas buat Alvan dan dua kelas untuk Ricko. Sedangkan Arief Tijil juga gagal podium teratas karena motor kehabisa nafas hingga menjelang garis finis. “Kira – kira 5 hingga 10 derajat tanjakan ini, tadi hanya kelas bebek 4 tak 130 cc saja saya bisa finish tercepat, kelas yang lain motor saya teriak maksimal sebelum garis finis, bisa diakali dengan ganti gir tetapi catatan waktu tetap jelek,” kata Tijil.

Bagi pihak penyelenggara seang putar otak untuk cari lahan baru, “Saya kerjasama dengan club EO lokal Magetan survey lokasi baru. Ada diseutar ring road Magetan, namun tempatnya agak minggir dari kota. Dan ini mudah-mudahan bisa terlaksana untuk gelar BG-Dragbike mendatang,” harap Totok Suyanto selaku pihak penyelenggara
Penulis : Diki | Foto : Diki

