OtomotifZone.com-Tasikmalaya. Dalam kurun 2 minggu ini, sirkuit Bukit Peusar Tasikmalaya memang menjadi sangat viral, setelah tendangan racing saat finish yang dilakukan pembalap senior tuan rumah Anggi Permana terhadap pembalap junior Wildan Maulida, Minggu kemaren, tepatnya 7/7/24 diajang One Prix putaran 3 Tasikmalaya, tindakan unsportif kembali terjadi, dimana Reza Hanum melakukan pemukulan terhadap Riky Ibrahim.
Kejadian tersebut terjadi saat berlangsungnya Superpole OP1 yang baru berlangsung belum 1 putaran, tepatnya terjadi ditikungan 4 samping kiri tribun kecil, dimana lap-lap awal sangat rentan terjadi gesekan, benturan bahkan saling senggol, baik sengaja maupun tidak sengaja karena rapatnya posisi antar pembalap, dan inilah yang menjadi pemicu terjadinya pukulan melayang.
Ada beberapa versi yang berkembang di social media kenapa pukulan itu terjadi, ada yang mengatakan karena Riky Ibrahim melakukan dorongan sehingga Reza Hanum out dan versi lain justru Riky Ibrahimlah korban dari senggolan tersebut.
“Dari hasil hearing yang kami lakukan, sanksi yang diberikan kepada kedua pembalap adalah drop 2 posisi dari race 2 OP1”, tegas Eddy Horison, Race director. “Grid tetap di posisi semula, hasil racenya turun 2 posisi dari hasil race 2 ( drop 2 position )”, tambah Willy Otra dan Tony Once pengawas lomba.
Buntut dari kejadian tersebut, kedua pembalap “hanya” mendapat sanksi mundur 2 posisi dari hasil finish race 2 tersebut, whaatttt…???!!!!!, keduanya mendapat sanksi yang sedikit banyak menjadi bahan gosip dan kontroversi, kenapa kasus pemukulan terkesan menjadi semacam pembiaran, bukan masalah dendam dan tidak dendam saat keduanya ditanya, tapi tindakan yang diluar aturan itulah kunci dari sebuah keputusan setelah dilakukan investigasi secara seksama.

Hearing antara COC, juri, 2 pembalap dan manager disaksikan perwakilan EO
Riky Ibrahim dianggap sebagai pembalap yang cukup “agresif” saat race, dimana kejadian saat race Palopo menjadi bahan pertimbangan pengambil keputusan kenapa akhirnya sanksi juga didapat meski dirinya merasa jadi korban.
“Saya juga bingung, ko saya kena sanksi, saya justru saat sebelum masuk tikungan ditanjakan, tangan saya terangkat oleh stang motor Reza, saya masih untung bisa bertahan pegang stang sehingga motor tidak jatuh, tapi kenapa saya menjadi ikut kena sanksi, tapi biarlah, saya diam karena saya juga punya impian yang lain”. Papar Riky Ibrahim saat penulis menghubungi langsung lewat telepon. Apakah kalimat yang berbeda dilontarkan Reza Hanum, kita menunggu informasi selanjutnya.
Jika mengacu kasus Boy Arbi tahun lalu dievent yang sama dan di sirkuit yang sama, sanksi yang sama lebih pantas dijatuhkan jika mengacu azas keadilan dari tindakan yang dilakukan.
Semoga kasus kekerasan dan tindakan yang seharusnya tidak dilakukan saat race tidak terjadi kembali, tindakan tegas dan keras memang harus dilakukan agar kedepannya tidak menjadi acuan pembalap lain, kekerasan tidak masalah, toh tidak ada sanksi, ini sangat bahaya.
Maju terus otomotif Indonesia.

