BerandaInternasionalFormulaFerrari Jadi Titik Balik, Hamilton Bangkit di Usia 41 Tahun

Ferrari Jadi Titik Balik, Hamilton Bangkit di Usia 41 Tahun

OtomotifZone.com – Jakarta, Musim Formula 1 2026 menghadirkan cerita menarik dari sosok Lewis Hamilton. Di usia 41 tahun, pembalap asal Inggris tersebut menunjukkan performa yang kembali menanjak bersama Scuderia Ferrari, seolah menghidupkan kembali kariernya setelah beberapa musim sulit.

Awal musim ini menjadi angin segar bagi Hamilton. Ia terlihat jauh lebih nyaman mengendarai mobil Ferrari generasi terbaru dibandingkan mobil era ground effect sebelumnya yang sempat membuatnya kesulitan saat masih membela Mercedes-AMG Petronas Formula One Team. Penurunan performa yang dialaminya sejak 2022 sempat memicu keraguan banyak pihak terhadap kemampuannya untuk tetap bersaing di level tertinggi.

Pada 2022, Hamilton bahkan menjalani musim tanpa kemenangan untuk pertama kalinya dalam kariernya. Meski masih mampu meraih podium, tren positif itu terus menurun di musim berikutnya seiring performa Mercedes yang belum kompetitif. Kemenangan baru kembali dirasakan pada 2024, sebelum akhirnya ia memutuskan hijrah ke Ferrari pada 2025.

Namun, musim debutnya bersama Ferrari tidak berjalan sesuai ekspektasi. Meski sempat mencuri perhatian lewat kemenangan sprint di GP China, Hamilton gagal meraih satu pun podium sepanjang musim—sebuah catatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam kariernya. Kritik pun berdatangan, bahkan sebagian pihak menyebutnya sudah habis dan layak pensiun.

Menariknya, kebangkitan Hamilton di 2026 ini disebut-sebut memiliki kemiripan dengan perjalanan karier legenda MotoGP, Valentino Rossi. Setelah meraih gelar terakhirnya pada 2009, Rossi mengalami periode sulit, terutama saat membela Ducati pada 2011–2012 yang berakhir tanpa kemenangan.

Rossi kemudian kembali ke Yamaha Factory Racing pada 2013. Meski awalnya diragukan, ia perlahan bangkit hingga menjadi runner-up MotoGP 2014 dan hampir merebut gelar juara dunia pada 2015 di usia 36 tahun. Kebangkitan tersebut menjadi salah satu kisah paling ikonik dalam dunia balap motor.

Kini, Hamilton menunjukkan pola serupa. Ia mengaku “menemukan kembali dirinya” selama jeda musim dingin dan kini tampil lebih percaya diri, baik secara fisik maupun mental. Performa kompetitifnya terlihat sejak seri pembuka, termasuk saat berhasil meraih podium pertamanya bersama Ferrari di GP China 2026.

Selain itu, Hamilton juga mampu bersaing ketat dengan rekan setimnya, Charles Leclerc. Meski Leclerc sempat unggul di beberapa sesi kualifikasi, Hamilton mampu menunjukkan konsistensi dan bahkan mengungguli sang rekan dalam momen krusial, termasuk saat mengamankan podium.

Kepala tim Ferrari, Frédéric Vasseur, menilai peningkatan performa Hamilton tidak lepas dari adaptasi yang lebih baik di musim keduanya bersama tim. Hubungan yang semakin solid dengan tim serta keterlibatan sejak awal pengembangan mobil 2026 menjadi faktor penting dalam kebangkitannya.

Meski demikian, tantangan besar masih menanti. Ferrari belum sepenuhnya mampu menandingi dominasi awal musim dari Mercedes. Hamilton pun dituntut untuk menjaga konsistensi jika ingin membuktikan bahwa kebangkitannya bukan sekadar momen sesaat.

Namun satu hal yang kini mulai jelas: gaya balap agresif namun terukur yang membawa Hamilton menjadi salah satu legenda terbesar di Formula 1 telah kembali. Pembicaraan soal gelar juara mungkin masih terlalu dini, tetapi satu narasi yang mulai pudar adalah soal pensiun.

Lewis Hamilton belum selesai. Ia justru sedang menulis babak baru dalam kariernya.

Must Read

Parolin Racing Advertisement Spot